Lore Dota 2: Luna, Anggota Dark Moon Pasukan Elit Pemuja Dewi Bulan Selemene

Sempat kehilangan kehormatannya sebagai jendral perang, Luna kembalikan kejayaannya setelah dibaptis oleh Selemene sang dewi bulan.



Setelah kemarin kita panjang lebar membahas masalah Nightsilver Woods, Selemene, dan sang Putri Bulan Mirana, sepertinya masih belum lengkap jika kita tidak membahas Luna sang Moon Rider, yang juga dikenal sebagai salah satu pasukan dari pemuja dewi bulan Selemene. Seorang ksatria sakti yang diberkati kekuatan oleh Selemene.

Sebagai seorang Moon Rider Luna diberkahi berkah kekuatan bulan. Dengan Lunar Blessings, serangan Luna jadi semakin kuat dan panca indra miliknya pun lebih kuat ketika malam hari. Mengendarai Nova, kendaraan tunggangannya yang setia, Luna berjaga di sekeliling Nightsilver Woods. Jika ada penyusup yang masuk ke Nightsilver Woods, Selemene siap membantu Luna dengan menarik energi dari bulan dan menghantam musuh dengan Lucent Beams.



Tak cuma kekuatan fisik dan magis Luna saja yang diperkuat, Luna juga dipersenjatai dengan senjata khusus. Jika Mirana punya panah yang dibuat dari lunar ore, maka Luna punya Moon Glaives, senjata dengan bentuk bumerang yang bisa menyayat melewati musuh-musuh. Dalam keadaan terdesak Luna bisa memanggil Eclipse, yaitu kekuatan kemurkaan Selemene yang dipanggil lewat tangannya sendiri. Membuat medan perang diselimuti kegelapan dan memanggil Lucent Beams untuk menghantam musuh-musuh yang ada di sekitarnya.

Walau memiliki kekuatan yang ditakuti di War of the Ancients, ternyata Luna punya masa lalu yang kelam. Dahulu Luna adalah seorang pemimpin pasukan, ia termasuk salah satu pemimpin elit yang memimpin para prajurit dan hewan-hewan buas. Sampai pada suatu hari dia terasingkan, jauh dari kampung halamannya, dan hampir jadi gila karena pengembaraan berbulan-bulan dan hampir mati kelaparan. Pasukan yang ia banggakan? Mereka sudah lama mati atau mungkin terjadi hal lain yang lebih buruk.



Dalam keadaan yang amat mengenaskan tersebut, tanpa sadar Luna ternyata berada di perbatasan sebuah hutan tua, dengan sepasang mata bercahaya mengintai dari batang pohon. Sosok itu terlihat amat cantik tapi juga mematikan, mencari makan di tengah senja yang melayu. Tanpa suara, mahkluk tersebut pun pergi.

Dikuasai amarah, Luna bergegas ingin menyerang sang binatang buas. Ia menyerang binatang buas tersebut, sesaat ingin kembali merasakan kejayaan ketika ia menjadi pemimpin dahulu. Tapi sang binatang buas sangat lihai, tiga kali Luna berhasil memojokkan dia, di antara batu dan pohon, dan tiga kali juga ia melompat ke sang binatang hanya untuk menyaksikan bayangannya pergi semakin jauh dalam ke hutan.

Bulan pun bersinar dengan cerahnya, dan jejak sang binatang jadi mudah untuk diikuti. Sampailah Luna di puncak sebuah bukit, sementara sang binatang berdiri bersiaga dan menunggunya. Seketika Luna mengayunkan belatinya, sang makhluk berdiri, mengaum dan menyerang. Dalam gerakan secepat kilat, sang makhluk merampas belati Luna, dalam sekejap juga Luna merasa ajalnya sudah dekat. Tak lama sosok bertudung datang mendekati, dan kemudian berbicara dengan nada yang amat halus. Tak disangka sosok tudung tersebut adalah Selemene, sang Dewi Bulan.

Tanpa disadari pengejaran tersebut ternyata adalah sebuah ujian yang disiapkan oleh Selemene. Selama ini telah memilih, memandu, dan menguji Luna. Tanpa disadari juga Luna ternyata berhasil bertahan dari sebuah ritual suci Dark Moon, yang diperuntukkan bagi pejuang Nightsilver Woods. Selemene pun memberi Luna dua pilihan: bergabung dengan Dark Moon dan bersumpah dirinya akan melayani Selemene, atau pergi dan tak pernah kembali dari hutan tersebut.

Berusaha menerima pengampunan dosanya, ia pun meninggalkan semua masa lalu berdarahnya, dan mengambil gelar barunya sebagai Luna sang Dark Moon. Bersama Nova sang tunggangan setia, Luna bersumpah akan menjaga Nightsilver Woods selama nafasnya masih berhembus.

Meski berada di dalam satu kelompok sebagai pemuja Selemene, tapi ternyata Luna dan Mirana memiliki rivalitas tersendiri. Mungkin hal tersebut dikarenakan ambisi Luna yang terlalu tinggi. Salah satu respon yang menggambarkan keadaan tersebut adalah.

Mirana: “Selemene trusted in you. I did not.”

Mirana: “Hold your ambitions, Luna.”



Begitu pun Luna yang juga begitu ketus kepada Mirana. Beberapa respon dari Luna ketika terjadi interaksi dengan Mirana adalah.

Luna: “I've waited years to do that.”

Luna: “Don’t blame me for being ambitious”

Komentar